Wikipedia

Search results

Saturday, 9 January 2016

KESIMPULAN




     Al-Qur’an sebagai pedoman atau petunjuk bagi umat Islam yang selalu dikaji oleh umat manusia terutama bagi umat Islam. Supaya dapat memahami upaya menafsirkan Al-Qur’an dengan berbagai persepektif dan pendekatan untuk memperkaya hasanah intelektual Islam dengan adanya karya-karya tafsir yang sudah dihidangkan oleh para ulama tafsir. Dari berbagai metode dan corak yang terdapat pada karya tafsir, tafsir Nur-al-Ihsan Muhammad Sa’id bin Umar menggunakan metode ijmali. Karena penilaian beliau pada masyarakat muslim disana waktu itu, masih lemah dari segi keagamaan dan terdapat keistimewaan pada metode ijmali, maka metode ini sangat istimewa dan cocok bagi masyarakat awam untuk lebih praktis dan mudah dipahami. Keistimewaan metode ijmali adalah praktis dan mudah dipahami, tanpa berbelit-belit pemahaman Al-Qur’an segera dapat diserap oleh pembacanya sebagai mana terlihat di dalam contoh yang telah di nukilkan. pola penafsiran serupa ini lebih cocok untuk para pemula dan pendidikan dasar atau mereka yang baru belajar tafsir Al-Qur’an, dikarenakan singkatnya penafsiran yang diberikan, tafsir Ijmali relatif lebih murni dan terbebas dari pemikiran-pemikiran israilyat. Sebagaimana disebutkan dalam bab II bahwa para pakar ulumul Al-Qur’an membagikan corak tafsir ke dalam enam corak, sastra bahasa, corak filsafat dan teologi, corak penafsiran ilmiah, corak fiqih atau hukum, corak tasawuf dan corak sastra budaya (adabi al-ijtimai) Bila ditinjau pada pembagian itu, maka ulama’ Patani, misalnya, tidak terkecuali.menjelang awal atau pertengahan abab ke-19 M., keilmuan yang muncul dari wilayah ini sebagian besarnya menyangkut ilmu fiqih, ushul al-din dan tasawuf, sama juga yang terdapat dalam tafsir Nur al-Ihsan Muhammad Sa’id bin Umar corak penafsiranya diwarna kepada tiga corak, fiqih, usuluddin dan tasawuf, jadi tafsir Nur al-Ihsan tidak bisa menetapkan corak khusus secara mutlak dalam memahami ayat-Al-Qur’an. Maka tafsir Nur al-Ihsan Muahammad Sa’id bin Umar bisa dikatakan kecederungan kepada tiga corak teologi, Fiqih dan tasawuf 

No comments:

Post a Comment